Ketika anak belum banyak bicara di usia yang konon sudah waktunya cerewet, wajar jika orang tua mulai merasa cemas. Itulah yang aku rasakan dua tahun yang lalu ketika si bungsu mengalami keterlambatan bicara. Awalnya, aku kira si kecil mengalami speech delay, ternyata setelah dipahami lebih jauh, ternyata hanya late talker.
Mungkin ada yang bingung dengan istilah speech delay dan late talker? Sebenarnya perbedaan kedua istilah ini terdengar sepele, tetapi dampaknya sangat besar. Terutama bagi ketenangan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Kekhawatiran yang Diam-Diam Tumbuh
Sebagai ibu yang hampir 24 jam bersama anak, aku mulai menyadari ada yang berbeda ketika si bungsu yang saat itu berusia 1,5 tahun. Berbeda dengan mbak dan masnya saat seusia dia yang sudah bisa menyampaikan keinginan mereka, namun ia lebih sering menunjuk daripada menyebut.
Alih-alih mengucapkannya dengan bahasa lisan, ia menarik tanganku untuk menunjukkan keinginannya. Padahal, usianya saat itu sudah masuk fase eksplorasi bahasa. Meskipun saat aku observasi, dia paham dengan yang aku bicarakan, bergerak jika diperintah atau dimintai tolong, serta fokusnya juga bagus.
Akan tetapi, tetap saja komentar lingkungan sekitar mulai berdatangan. Dari yang bernada prihatin sampai yang sekadar mengingatkan. Mungkin niat mereka baik, tapi tahukah mereka apa yang dirasakan oleh ibu tersebut?
Di titik inilah kekhawatiran perlahan mengambil alih logika. Sampai-sampai hampir sebulan, aku memilih untuk menghapus semua aplikasi media sosial. Hal ini dikarenakan saat mendapatkan informasi dari sana bukannya semakin tenang, malah kekhawatiran semakin menjadi-jadi. Hingga depresi dan menyalakan diri sendiri.
Tetapi akhirnya aku sadar… Jika aku tidak bergerak sekarang, akan lebih terlambat baginya mengejar ketertinggalan tumbuh kembangnya. Dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi. Akhirnya di usia 2 tahun, aku dan suami membawanya ke dokter anak khusus tumbuh kembang untuk berkonsultasi dan melakukan terapi. (Nanti aku ceritakan di next artikel ya).
Mengapa Banyak Orang Tua Mengira Anaknya Mengalami Speech Delay?
Banyak orang tua, termasuk aku, yang anaknya mengalami keterlambatan bicara langsung dicap speech delay. Hal ini dikarenakan, informasi di internet lebih sering membahas istilah ini. Padahal keterlambatan bicara tidak selalu berarti gangguan.
Selain itu, memang tanda awal speech delay dan late talker juga terlihat mirip jika dilihat sekilas. Sehingga tanpa pemahaman yang utuh, wajar saja jika banyak orang tua langsung menyimpulkan yang terburuk. Apalagi saat berkonsultasi dengan dokter, si bungsu didiagnosis speech disorder.
Apa lagi itu? Bingung kan? Sayangnya dulu, aku tidak terlalu paham perbedaannya. Sehingga tidak sempat banyak bertanya pada dokter, kenapa sampai Rasyid didiagnosis itu. Namun, aku dulu meyakini anakku speech delay.
Namun, setelah aku mencari tahu lebih banyak informasi terkait hal ini, mengobservasi, serta mendampingi proses terapi wicara di rumah sakit dan terapi mandiri di rumah selama 6 bulan, akhirnya aku menyimpulkan ternyata dulu Rasyid hanya mengalami late talker dan bukan speech delay.
Mengenal Istilah Late Talker, Speech Delay, dan Speech Disorder pada Anak
Saat anak belum lancar bicara, banyak orang tua yang bingung, apakah anaknya mengalami late talker, speech delay atau speech disorder? Sekilas terdengar mirip, tetapi sebenarnya ketiganya memiliki perbedaan penting.
Memahami perbedaan ini akan sangat membantu orang tua bersikap lebih tenang sekaligus mengambil langkah yang tepat dalam mendampingi si kecil.
1. Late Talker
Late Talker merupakan kondisi ketika anak mengalami keterlambatan bicara secara ekspresif, tetapi perkembangan aspek lain berjalan relatif sesuai usianya.
Ciri-ciri late talker:
- Kosakata masih terbatas dibandingkan anak seusianya
- Memahami instruksi sederhana
- Respons sosial baik (kontak mata, senyum, dan interaksi)
- Perkembangan motorik normal
- Ingin berkomunikasi (menunjuk, menarik tangan, gestur tubuh)
Namun, intinya anak mengerti hanya saja belum mengeluarkan banyak kata. Banyak anak late talker mampu mengejar ketertinggalannya dengan stimulasi dan waktu.
2. Speech Delay
Speech delay merupakan keterlambatan kemampuan bicara yang berkaitan dengan faktor lain, seperti gangguan pendengaran, kurang stimulasi, atau kondisi perkembangan tertentu.
Ciri-ciri speech delay:
- Jumlah kosakata sangat minim
- Perkembangan bahasa reseptif (pemahaman) bisa ikut terlambat
- Respon terhadap panggilan kurang konsisten
- Tidak ada kontak mata
- Bisa disertai keterlambatan aspek lain
Speech delay ini sering kali membutuhkan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebabnya dan sebaiknya mendapatkan terapi yang sesuai.
3. Speech Disorder
Speech disorder adalah gangguan pada kemampuan menghasilkan suara atau mengucapkan kata dengan jelas. ini bukan sekadar terlambat bicara, tetapi ada masalah pada proses produksi suara.
Ciri-ciri speech disorder:
- Gangguan artikulasi (pelafalan tidak jelas)
- Gangguan fonologi (pola bunyi tidak sesuai)
- Gagap
- Gangguan suara (suara serak kronis)
Anak dengan speech disorder mungkin sudah bisa banyak bicara, hanya saja ucapannya sulit dipahami atau pola bicaranya tidak normal. Kondisi seperti ini umumnya memerlukan terapi wicara khusus.
Kapan Harus Konsultasi?
Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin menunggu sambil berharap, “Jika sudah waktunya nanti juga lancar sendiri.” Namun ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan. Konsultasi bukan berarti memberi label pada anak, melainkan memastikan ia mendapatkan dukungan yang tepat di waktu yang pas. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena terlambat memberikan penanganan.

Oleh sebab itu, segera pertimbangkan evaluasi profesional jika anak:
- Tidak mengucapkan kata bermakna di usia 18 bulan
- Tidak memiliki minimal 50 kosakata di usia 2 tahun
- Tidak merespons saat dipanggil
- Tidak menunjukkan usaha berkomunikasi
- Ucapannya sulit dipahami bahkan setelah usia 3-4 tahun
Dari mana kita bisa mengetahuinya? Jawabnya bisa dari observasi sehari-hari. Itulah yang menjadi alasan kenapa orang tua khususnya yang mempunya anak usia dini harus punya panduan seperti indikator perkembangan anak.
Berikut indikator pencapaian perkembangan anak usia 0-6 tahun berdasarkan data dari PUSAT KURIKULUM BALITBANG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL tahun 2007 yang sudah saya susun ulang. Bagi yang berminat silakan unduh di link bawah ini.
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 0-1 tahun
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 1-2 tahun
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 2-3 tahun
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 3-4 tahun
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 4-5 tahun
- Checklist Indikator Perkembangan Anak 5-6 tahun
Jangan Panik, Tetapi Jangan Abai
Setiap anak punya ritme perkembangan berbeda. Ada yang cepat berbicara, ada yang seperti “menabung kata” sebelum akhirnya meledak jadi cerewet luar biasa. Yang terpenting tetap amati pemahaman anak dan perhatikan interaksi sosialnya. Lihat dan catat progres sekecil apa pun. Serta ketika muncul ragu jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli. Sehingga kita bisa lebih jelas mengetahui apakah anak kita mengalami late talker, speech delay atau speech disorder.
Tenang! Jika khawatir soal biayanya, konsultasi dan terapi anak bisa pake BPJS kok (akan aku bahas di next artikel. Tunggu linknya ya!).
Karena dalam tumbuh kembang anak, keseimbangan antara tenang dan tanggap adalah kunci. Setuju?
