Thursday, 7 November 2019

# Home Education # Traveling Ala AuRa

KONTRIBUSI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN CAGAR BUDAYA INDONESIA


Sebagai keluarga nomaden, kami merasa sangat bersyukur bisa mengunjungi tempat wisata yang menjadi Cagar Budaya maupun cagar alam yang menjadi kekhasan di setiap daerah tempat kami berdomisili maupun daerah sekitarnya. Karena bagi kami, saat berkunjung ke tempat-tempat wisata ini, kami bukan sekedar jalan-jalan saja. Akan tetapi juga sebagai sarana untuk mengedukasi anak-anak tentang keberagaman suku, sejarah, flora, fauna, budaya, dan semua yang menjadikan Indonesia begitu mempesona di mata dunia.

Alhamdulillah pertengahan oktober 2019 lalu, kami berkesempatan berkujung ke beberapa daerah di Sumatra Barat. Seperti yang kita ketahui ada begitu banyak yang bisa kita eksplorasi di Sumatra Barat ini. Bukan hanya terkenal di Indonesia saja, beberapa Cagar Budaya Sumatra Barat bahkan dikenal juga di dunia. Sebut saja salah satunya adalah Jam Gadang yang berada di Bukittinggi. Nah, sebelum saya menceritakan pengalaman seru kami menjelajahi Cagar Budaya yang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat dan kontribusi masyarakat dalam pelestarian Cagar Budaya Indonesia ini. Saya mau kasih info dulu apa itu Cagar Budaya.

🐾 APA ITU CAGAR BUDAYA ?

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 tahun 2010, Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. (Ingin tahu lebih lengkap silakan klik di sini >> undang-undang-no-11-tahun-2010-tentang-cagar-budaya << ).

Bedanya budaya dengan Cagar Budaya itu apa sih? Nah, kalau Budaya itu bersifat intangible (tidak berwujud) seperti bahasa, tarian, musik, dan sebagainya, Sedangkan Cagar Budaya itu bersifat tangible (berwujud) yang dapat dilihat, diraba, dan mempunyai massa serta dimensi yang nyata seperti candi, batu prasasti, bendera, arca, keris, dan lainnya.


🐾 CAGAR BUDAYA DI INDONESIA

Tidak perlu diragukan lagi begitu banyak Cagar Budaya yang ada di Indonesia. Namun, berapa banyak sih sebenarnya? Menurut data dari >> cagarbudaya.kemdikbud.go.id << sampai saat ini (per tanggal 7 November 2019) terdapat :
  • 96.222 yang terdaftar di sistem registrasi nasional cagar budaya
  • 48.848 yang terverifikasi
  • 1.619 yang menjadi rekomendasi cagar budaya
  • 1.510 yang telah disahkan
Diharapkan angka tersebut akan terus bertambah sehingga semakin banyak juga Cagar Budaya Indonesia yang bisa tercatat dan disahkan. Sehingga perlidungan, penyelamatan, pemeliharaan dan pelestariannya bisa diawasi dengan lebih baik. Di bawah ini ada video tentang Pesona Cagar Budaya Indonesia. Silakan diklik juga >> Cagar Budaya Indonesia << untuk info lebih banyak tentang cagar budaya dan kebudayaan Indonesia.



🐾 CAGAR BUDAYA DI SUMATRA BARAT

Berdasarkan BLCG (Balai Pelestarian Cagar budaya) Sumatra Barat, pada akhir tahun 2017 ada 526 objek cagar budaya tak bergerak di Sumatera Barat. Banyak bukan? Ini yang terdaftar saja. Saya yakin masih banyak cagar budaya yang akan ditemukan dikemudian hari. Untuk lebih jelas apa saja objek cagar budaya tak bergerak di Sumatera Barat ini, bisa klik di sini >> Daftar-CB-SUMBAR <<.
 
🐾 JAM GADANG, SALAH SATU CAGAR BUDAYA FAVORIT DI SUMATRA BARAT

Jam gadang di Bukittinggi, Sumatra Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak Cagar Budaya Indonesia. Dengan no.RENNAS RNCB.20100108.03.000360 dan SK penetapan SK Menteri NoPM.05/PW.007/MKP/2010. Jam gadang ini merupakan kategori Struktur Cagar Budaya.

Jam gadang ini berlokasi di pusat kota Bukittinggi, tepatnya di atas bukit kandang kabau diantara pasa ateh (pasar atas) dan komplek istana bung Hatta. Jam gadang ini merupakan menara jam yang memiliki empat buah jam besar di setiap sisinya. Karena jam besar inilah nama Jam Gadang disematkan oleh orang Minangkabau yang dalam bahasa Minang "Gadang" berarti besar.

Bangunan ini dibangun hanya dengan campuran kapur, putih telur dan pasir tanpa menggunakan besi penyangga dan semen. Jam Gadang ini berukuran 6.5 x 10.5 meter dengan ketinggian 26 meter dan terdapat 4 buah jam di atas menaranya dengan diameter 80 cm.

Hebatnya mesin jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda. Mesin tersebut hanya dibuat dua unit di dunia ini, yaitu satu untuk jam Gadang dan satunya untuk Big Ben di London. Walaupun didatangkan dari Belanda, pabrik pembuat mesin jam ini yaitu Vortmann Relinghausen berada di Jerman (pada tahun 1892). Sedangkan bangunan menara jamnya  dirancang dan dibuat oleh orang Minangkabau yang bernama Yazid Sutan Maruhun dan Rasid Sutan Gigi Ameh.


Jam gadang ini didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda atas perintah Ratu Belanda Wilhelmina sebagai hadiah bagi sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi (dulu bernama Fort de Kock) yang saat itu menjabat yaitu Rook Maker.

Pembangunannya selesai dan diresmikan pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden, biaya yang tergolong sangat besar pada masa itu. Akibatnya jam gadang ini menjadi pusat perhatian banyak orang pada masa itu. Hal ini akhirnya menjadikan Jam Gadang ini sebagai penanda titik 0 Kota Bukittinggi.

Sejak didirikan, menara jam ini telah 3 kali mengalami perubahan pada bentuk atapnya, yaitu :
  1. Pada pemerintahan Hindia-Balanda (awal dibangun), atapnya berbentuk dengan ayam jantan menghadap timur diatasnya.
  2. Pada masa kependudukan jepang diubah menjadi bentuk pagoda.
  3. Pada Indonesia telah merdeka, atapnya lalu diganti dengan bentuk gonjong (atap khas rumah minangkabau).


Selain mesinnya dan bahan baku pembuatan bangunan menaranya, kita juga akan menemukan kekhasan Jam Gadang ini. Angka di Jam Gadang ini memakai angka romawi. Namun, anehnya untuk angka 4 yang seharusnya dalam angka romawi ditulis denga IV tapi di Jam Gadang ini ditulis dengan IIII. Oh ya, di sekitar Jam Gadang ini, kamu bisa menemukan objek wisata lain juga. Seperti Taman Monumen Proklamasi Bung Hatta, Tugu Pahlawan Tak Dikenal, serta pasar yang menjual pakaian dan makan khas Bukittinggi.


Taman Monumen Proklamasi Bung Hatta ini, didirikan pada tahun 2003. Pembuatan taman ini bertujuan untuk Mengenang 100 Tahun lahirnya Muhammad Hatta, sang tokoh Proklamator Republik Indonesia yang memang lahir di kota Bukittinggi pada tahun 12 Agustus 1902.


Tugu Pahlawan tak dikenal ini berbentuk ornamen lingkaran ular naga yang dipuncaknya bendiri patung pemuda yang padahal awalnya itu patung tersebut memegang bendera. Namun, karena sempat tersambar petir patung tersebut sekarang seperti memegang pedang. Monumen ini dirancang oleh seniman asal Sumatera Barat yaitu Huriah Adam. Konon sejarah dari pembuatan Tugu Pahlawan Tak Dikenal ini adalah untuk mengenang para pahlawan yang namanya tidak dikenang saat melawan Koloniasme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905.

Di foto atas Auni (anak sulungku) sedang membaca tulisan berkaitan informasi dan sejarah dari tugu ini. Dari sinilah kami bisa memasukkan nilai-nilai yang berkaitan dengan literasi budaya dan kewargaan kepada mereka tentang sejarah perjuangan para pahlawan terdahulu, cagar budaya yang perlu dilestarikan, dan apa yang menjadi tugas kita sebagai warga negara Indonesia.


Saat kami ke sana, kemarin sebagian area dari Pasar Atas Bukit Tinggi yang berada di dekat Jam Gadang ini sedang dilakukan renovasi akibat kebakaran yang terjadi pada 30 0ktober 2017 silam. Namun, di sini kami tetap bisa menemukan pakaian dan oleh-oleh khas Bukittinggi dan tidak ketinggalan menikmati kuliner Bukittinggi yang terkenal yaitu Nasi Kapau.

Selain ke Jam Gadang ini, kami juga berkunjung ke Cagar Budaya lain yang ada di bukittinggi yaitu Lobang Jepang atau bisa juga disebut Goa Jepang Panorama yang resmi menjadi salah satu Cagar Budaya sejak 2007 lalu.

Baca juga

Seru bukan pengalaman kami ini? Nah, ini yang memotivasi kami untuk ikut dalam melestarikan Cagar Budaya Indonesia. Karena akan sangat disayangkan jika Cagar Budaya ini rusak atau bahkan musnah. Anak cucu kita jadi tidak bisa melihat dan mengenal sejarah yang ada di setiap Cagar Budaya. Padahal itu sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bangsa kita.

🐾 PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Pelestarian Cagar Budaya ini sangatlah diperlukan. Alasan utamanya tentu saja sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia no.11 Tahun 2010 yang menyatakan Cagar Budaya harus dilestarikan keberadaaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. Selain itu ada beberapa alasan lain kenapa pelestarian itu wajib dilakukan :
  1. Cagar Budaya mempunyai sifat langka dan tidak dapat diperbaruhi. Sehingga jika itu rusak atau musnah tentu saja tidak dapat digantikan dengan yang lain.
  2. Nilai dan sejarah dalam setiap Cagar Budaya itu variatif dan berbeda-beda.
  3. Cagar Budaya merupakan warisan dan kekayaan yang bisa menjadi identitas bangsa.
  4. Sebagai penghubung generasi terdahulu, sekarang dan di masa yang akan datang.
  5. Cagar Budaya juga sebagai salah satu sarana edukasi untuk menumbuhkan budaya literasi dalam hal ini berhubungan dengan literasi budaya dan kewargaan. 


Sayangnya, belum banyak yang paham betul akan pentingnya pelestarian Cagar Budaya ini. Berawal dari ketidaktahuan mereka bahwa Cagar Budaya itu tidak sekedar candi, tugu, atau bangunan saja. Akan tetapi, bendera merah putih, alat musik, fosil, lukisan, prasasti, arca, menhir, jembatan, dan banyak lainnya juga termasuk ke dalam kategori Cagar Budaya. Maka, itulah alasan kenapa saya membahasnya di awal artikel ini. Begitu banyak yang harus kita lestarikan, karena jika tidak kita rawat maka sangat memungkinkan Cagar Budaya itu akan musnah. Berapa banyak Cagar Budaya yang harus kita lestarikan? Bisa dilihat dari grafik di bawah ini.


Pelestarian Cagar Budaya ini butuh komitmen dari semua pihak. Bukan hanya tugas dari peneliti (arkeolog), sejarawan, budayawan, ilmuwan atau pegawai dari kemdikbud saja. Akan tetapi, dibutuhkan kontribusi dari masyarakat umum dalam pelestarian Cagar Budaya ini. Nah, Apa saja yang bisa kita lakukan?
  • Mengunjungi Cagar Budaya untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki sehingga masyarakat mau ikut berkontribusi dalam pelestarian Cagar Budaya. Dari retribusi (tiket masuk) yang kita berikan, itu juga bisa digunakan untuk biaya perawatan Cagar Budaya.
  • Menjaga dan melindungi Cagar Budaya. Dalam hal ini, bisa dimulai dengan tidak membuang sampah di area Cagar Budaya, tidak merusak (misalnya mencoret-coret, mencongkel, dsb), tidak mengambil unsur dan objek yang menjadi Cagar Budaya, serta tidak menjualbelikannya.
  • Mendokumentasikan dan mempublikasikan Cagar Budaya melalui akun media sosial, blog, pameran, buku, media elektronik maupun media cetak. Sehingga informasi mengenai Cagar Budaya masih tersebar luas diharapkan masyarakat lain ikut serta dalam menjaga dan melindunginya juga.
  • Ikut kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat secara pribadi seperti menuliskan artikel tentang Cagar Budaya ini ataupun secara berkelompok (membentuk organisasi ataupun komunitas) dengan membuat acara seminar, dsb.
  • Bersikap aktif dan responsif terhadap penemuan baru Cagar Budaya ataupun tindakan yang bisa membahayakan Cagar Budaya (misal penjarahan dan pencurian) kepada pemerintah atau dinas terkait.

Kamu punya cerita seru tentang Cagar budaya dan ingin ikut serta dalam mensosialisasikan pelestarian Cagar Budaya tersebut? Yuk, ikut berpartisipasi dalam kompetisi "Blog Cagar Budaya Indonesia, Rawat atau Musnah!"



93 comments:

  1. Infonya lengkap banget kak dyah. Dulu taunya cadar budaya cuma yang berhubungan sama budaya salah satu suku di Indonesia. Ternyata, bendera pun termasuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, bendera merah putih yang dijahit ibu fatmawati, teks prokmasi yang asli, biola pak wr.soepartman ini juga termasuk dalam kategori benda cagar budaya. Ternyata banyak kan?

      Delete
  2. Cagar budaya Sumatera Barat ya Dyah,, kl cagar budaya di Pekanbaru, Riau sendiri banyak juga yaa kayaknya. MasyaAllah Wonderful Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kk, seperti istana siak, dsb tapi jumlahnya tidak sebanyak di sumbar

      Delete
  3. Keren mba infonya. Zaman sekarang makin sedikit yang hapal cagar budaya apa aja yang kita miliki. Mereka lebih sering jalan ke luar negeri, ke tempat wisata fenomenal dan cafe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks.. iya mb. rasanya kalau jalan ke luar negeri itu lebih keren. Sebenarnya bukan tidak boleh, tapi wisata di indonesia itu gak kalah bagus dan menawan dibanding negara lain.

      Delete
  4. Saya sangat suka sekali wisata ke cagar budaya dan cagar alam, Mbak Dyah. Karena pasti ada historis atau sejarahnya tempat atau bangunan itu. dan memang peran serta kita untuk ikut menjaganya. Makanya paling kesal kalau di tempat-tempat itu ada yang mencorat-coret dengan tulisan tak sopan. Atau parahnya lagi merusak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih kalau baca blog mas bambang duh jiwa emak2 butuh liburan terusik. 😂

      Delete
  5. Nggak nyangka kalau cagar budaya kita ternyata banyak sekali yaa. harus dirawat agar tetap terjaga sampai kapanpun yaa.
    Mengenalkan cagar budaya ke anak2 juga bagus, supaya mereka paham kalau hal tersebut harus dirawat juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kak, karena anak-anak ini generasi emas indonesia. keberlangsungan pelestarian cagar budaya indonesia ada di tangan mereka

      Delete
  6. Setuju banget untuk melindungi Cagar budaya, supaya anak2 bisa belajar dr Cagar budaya tersebut tentang sejarah bangsanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, mengedukasi tentang cagar budaya dan sejarah sangat perlu kita lakukan pada anak-anak. krn mereka generasi penerusnya

      Delete
  7. aku suka ke cagar budaya apalagi kalau memiliki spot foto yang menarik :)

    ReplyDelete
  8. Banyak cagar budaya yang terseret dan hilang. Kalau bukan kita yang merawat, mau siapa lagi? Kepedulian kita menjaganya adalah bentuk tanggung jawab kita bersama terhadap anak cucu supaya mereka juga kelak bisa menyaksikannya langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, masih ada generasi mendatang yang wajib tahu sejarah akan bangsanya. Dan salah satu pembuktian sejarah tersebut adalah dari cagar budaya ini

      Delete
  9. Baru tahu, lho, ternyata Cagar Budaya ada macamnya, ya. Setuju banget, cagar budaya dalam bentuk apa pun harus dirawat, apalagi kalau memiliki kearifan lokal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang, setidaknya ada 5 kategori dari cagar budaya indonesia ini dan memang wajib kita lestarikan

      Delete
  10. perlu kesadaran tinggi untuk merawat cagar budaya yang sudah ada karena memang nilainya yang tinggi. Cagar budaya tidak dapat diperbaharui lagi. tetapi keberadaannya penting karena merupakan saksi sejarah yang bisa dilihat oleh generasi selanjutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, butuh peran serta dari semua pihak untuk merawat cagar budaya ini

      Delete
  11. wah mba dyah. Itu semua adalah mainan saya pas bolos sekolah waktu sma.
    gak pergi ke sma saya mba?
    sma saya juga bangunan belanda. kelasnya tinggi-tinggi.
    sma negeri 2 bukittinggi.
    saya jadi rindu, dan tak sabar mau reunian 2020 nanti di bukittinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. ga kak. Soalnya keliling ke batusangkar, dll juga kemarin. Semoga reuninya nanti lancar ya kk ^^ sekalian ajak jalan-jalan anak-anak juga

      Delete
  12. Jangan sampai cagar budaya menjadi punah, ya. Harus ada peran bersama untuk melindunginya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, semua harus turu serta dalam merawat dan melindungi cagar budaya ini.

      Delete
  13. aku baru tahu loh mba mesin jam gadang itu limited yah cuman dibuat dua sama di Big Ben London mantap deh proud Indonesia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu tahu info ini dari buku ceritanya anak-anak. Eh, ternyata bisa mengajak mereka melihat ini secara langsung

      Delete
  14. Memang kita sebagai masyarakat harus pro aktif turut serta melestarikan cagar budaya ya supaya gak punah

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah sudah pernah ke sana semua. Jadi berasa reuni, nih.
    Kaos di pasar atas harganya masih normal, saya borong beberapa tuk oleh-oleh. Makannya gulai tunjang, duh sedapnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, aku kemarin makan dendeng balado ijonya. Wuih.. makyus kk

      Delete
  16. Saya baru tahu nih bahwa bahan untuk membangun jam gadang hanya campuran kapur, putih telur dan pasir tanpa menggunakan besi penyangga dan semen. Tapi bangunan jam gadang itu terlihat kokoh ya.

    Soal cagar budaya, indonesia memang memiliki banyak cagar budaya dan itu harua dijaga agar tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang. Keren ya. Ternyata bukan cuma candi aja yang memakai bahan baku telur dan pasir. Jam gadang ini juga.

      Delete
  17. akutuh nontonin Vlog Rans Entertainment yang lagi lanjalan ke beberapa kota di Indonesia, iri plus ngiler, apalagi saat mereka ke pulau padar dan liat Komodo

    ReplyDelete
    Replies
    1. INdonesia itu keren loh mbak, Aku sudah ke beberapa cagar budaya yang ada di SUmatera dan jawa saja dibuat kagum.

      Delete
  18. informatif banget saya jadi tertarik untuk berkunjung ke sumatra barat melihat bangunan - bangunan cagar budayanya yang masih terawat dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semoga cagar budaya di sumsel juga bisa dirawat dan dilindungi ya mbak. Kami malah belum sempat mengajak anak-anak ke cagar budaya yang ada di sumsel. soalnya kalau mudik cuma sebentar.

      Delete
  19. Komplit banget informasi mengenai cagar budayanya. Di Bogor sendiri, ada banyak banget bangunan yang masuk ke dalam cagar budaya. Aku beberapa kali lewat tapi belum pernah mampir buat tanya-tanya ke pengelola untuk tahu lebih banyak.

    Setuju banget tuh bahwa cagar budaya itu bisa menghubungkan generasi masa kini dengan generasi masa lalu. Mereka pun bisa belajar juga ya mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam setiap perkembangan zaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mbak kita jelajahi cagar budaya dan mengenal lebih jauh sejarah tentang bangsa kita yang penuh dengan keberagaman.

      Delete
  20. Saya salah satu yang paling suka liat bangunan peninggalan cagar alam mbak. Paling sedih kalau ada bangunan cagar alam yang gak terawat. Padahal kalau terawat akan menjadi obyek wisata (mungkin di tengah kota) yang bagus. Semoga dengan adanya artikel2 semacam ini makin bikin semangat pemerintah menjaga bangunan2 yang ada dan masyarakat makin menghargai sejarah yaa

    Moga kapan2 bisa mengunjungi Padang dna Bukit Tinggi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, akupun sedikh kalau liat jejak bersejarah ini dibiarkan rusak. Ngenesnya kadang di dalam kota, gimana yang di pelosoknya

      Delete
  21. Aku yang asli Surabaya aja, ga gitu paham sama cagar budaya di sini. Untuk mengakses informasj ini, kita tanya ke mana ya mba? Mungkin ada web khusus yang bisa diakses umum/warga

    ReplyDelete
    Replies
    1. YUk langsung ke IGnya @cagarbudayadanmuseum atau klik link di tulisan atas ya mbak. ^^

      Delete
  22. Aku pikir jam gadang di bukittinggi itu bangunan biasa yang dibangun sebagai tugu gitu. Ternyata historinya luar biasa ya... Aku sempat berkunjung ke Bukittinggi ini sekitar tahun 2017. Seru banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, histori yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah sangat kental di sini.

      Delete
  23. MaasyaaAllah ini mah kayak baca kamus lengkap ya Dy.
    Informasi nya kumplit kayak nasi uduk Medan.
    Good luck kah pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkkw.. iya kak. Inginnya bukan hanya sekedar menyajikan cerita tentang jalan-jalan aja. tapi juga mengedukasi tentang cagar budaya itu sendiri. karena masih banyak yang berpikir cagar budaya itu kayak candi aja.

      Delete
  24. Cagar budaya memang harus senantiasa dilestarikan oleh kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?

    ReplyDelete
  25. Pelestarian cagar budaya harus banget dilakukan, kalau nggak bisa musnah dan hilang.sangat disayangkan nanti untuk generasi selanjutnya kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, jangan sampai generasi selanjutnya tidak menemukan bukti autentik tentang sejarah bangsanya

      Delete
  26. Saya suks wisata sejarah mbak. Memang tidak gampang menanamkan rasa peduli terhadap bangungan cagar budaya. Perlu edukasi yang dilakukan dengan tepat dan mengena. Di Jogja ada acara pengenalan cagar budaya lewat aktivitas lomba. Semoga cagar budaya yang ada bisa terjaga ya, biar bisa dinikmati generasi berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yogya mah keren, banyak cagar budaya di sana jadi memang butuh sosialisasi yang tinggi juga agar masyarakatnya bisa ikut melestasrikan.

      Delete
  27. Indonesia yang luar biasa indah.
    Kekayaannya gak berupa alamnya saja yang indah, tapi juga budaya dan peninggalan sejarahnya.
    Aku berharap, anak muda sekarang gak lupa sama sejarah Indonesia.
    Jadi bangunan cagar budaya masih bisa dinikmati hingga anak-cucu nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, kata siapa masa lalu itu gak perlu. Bagiku perlu karena dengan adanya sejarah kita bisa lebih menghargai masa sekarang dan masa depan.

      Delete
  28. saya tipe yg suka akan sejarah dan kepo kisah akan suatu lokasi. sayangnya pasangan hidup saya tak demikian. jadi karena kemana2 kami harus bersama, sementara ini tak bs berlama2 ke cagar budaya. hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. HIks, sedihnya. Mungkin nanti bisa diajak dan dipahamkan. Apalagi kalau anak-anak suka, kan bisa jadi alasan kita buat ngajak suami ke cagar budaya seperti ini.

      Delete
  29. Aku kira cagar budaya itu cuma monumen atau tempat2 bersejarah aja, ternyata bendera pun termasuk ya mba. Dulu zaman sekolah masih sering ada program study tour ke tempat2 bersejarah. Mudah2an semakin digiatkan lagi biar kids zaman now juga tau cagar budaya disekitarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bendera merah putih, biola WR soepartman, dan lainnya termasuk ke dalam kategori benda cagar budaya.

      Delete
  30. Yup, kita harus membantuelestarikan cagar budaya kita. Aq sudah mengunjungi jam gadana dan monumen Bung Hatta, lho!

    ReplyDelete
  31. tempat wisata yang ingin aku kunjungi bersama keluarga nih, bukit tinggi.. apa lagi anak pertamaku, serimg banget tunjukin jam gadang, katanya mau kesana..

    ReplyDelete
  32. Sebagai anak antropologi rasanya lebih bahagia liburan mengekplore cagar budaya daripada ke mol. Dulu zaman ngantor, kalo berkesempatan ke luar kota juga yang jadi tujuan utama tpt lawasnya dulu. Terkagum kagum saat ke jam gadang sama Bapak Dorodjatun Koentjorojakti malah beliau yang dengan fasih menceritakan sejarah jam gadang seperti diceritakan mba Dyah ini.. Harapannya penulis penulis masih suka mengangkat tema ini ya supaya anak muda gak cuma seneng liat negeri orang tapi negeri sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kk, karena sebenarnya Indonesia itu penuh dengan tempat wisata yang layak untuk diekplorasi oleh rakyatnya sendiri.

      Delete
  33. Setuju banget kalau cagar budaya kudu dilestarikan biar bisa juga diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Wisata edukasi ke cagar-cagar budaya juga kami lakukan, jadi seng banget kalau cagar budaya yang ada sekarang lebih ditingkatkan perawatan dan performa nya, semakin senang lagi kalau nambah cagar budaya yang bisa dikunjungi. Btw...goodluck ya dyah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, bukan hanya cagar budayanya saja, semoga fasilitas penunjangnya juga semakin diperhatikan ya kk. Jadi pengunjung semakin nyaman dan bisa merekomendasikannya ke yang lain juga.

      Delete
  34. Jam gadang itu kebanggan masyarakat bukit tinggi, masyarakat Sumatra Barat juga bangga akan jam gadang ini. Semoga terus terjaga ketagian bukti sejarah ini yac kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jam Gadang juga menjadi Kebanggan Indonesia ya kak, Banyak wisatawan dari negeri tetangga juga mengunjunginya.

      Delete
  35. Cagar budaya Indonesia memang paling banyak di belahan negara manapun.
    Karena negara kita kaya akan sumber daya alam.

    ReplyDelete
  36. Cagar budaya harus tetap dipertahankan, tindakan vandalisme salah satunya termasuk yg merusak keasrian cagar budaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, tangan-tangan jahil pelaku vandalisme itu semoga saja bisa disembuhkan.

      Delete
  37. Bukit tinggiii, aku mau kesana lagi, tahun 2018 ke Jam Gadang tapi lagi direnov dan sekarang pasti lebih cantek lagi ya kan mba^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantek pake banget mbak. Tinggal renovasi pasar atas yang kebakaran aja kemarin. Kalau sekitar jam gadnag dah apik

      Delete
  38. lance baru tau la kalau cagar budaya itu ada jenis2 nya. udah aja klo ada tempat, benda ataupun sesuatu yg sudah kuno dan bersejarah itu dinamakan cagar budaya.tfs kak di

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, cagar budaya itu bukan hanya candi atau banguan saja tapi yang lain juga.

      Delete
  39. Replies
    1. Benar sekali, makanya sebagai rakyatnya kita mesti bangga dan menjaganya

      Delete
  40. Bagus sekali kak, mengajak orang-orang mengenal cagar budaya indonesia semoga kita bisa terus menjaga dan melestarikan cagar budaya indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. iya kak karena melestarikan itu butuh kerjasama dari semua pihak. Sayang sekali kan kalau sampai rusak, padahal cagar budaya ini MasyaAllah cakep dan keren

      Delete
  41. lengkap banget artikelnya mbakkkk. salutttt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehhehe.. iya kak. Karena menulis artikel ini bukan hanya sekedar ikut lomba tapi juga ingin berbagi pengalaman dan informasi. Agar yang membaca bisa mendapat informasi yang utuh. Soalnya kan banyak yang belum tahu kalau bukan hanya candi dan bangunan saja yang termasuk dalam cagar budaya itu.

      Delete
  42. Wah disini dikupas tuntas nih mengenai cagar budaya. Semoga semua pihak baik masyarakat dan pemerintah bisa saling menjaga cagar budaya di Indonesia agar terus lestari atau lebih ramah wisatawan lg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya donk bang, Niatkan menulis itu mengedukasi. Jadi sebisa mungkin memberikan informasi yang lengkap dan utuh. ^^

      Delete
  43. Banyak cagar budaya di tiap kota yang kadang kita sendiri nggak tau ya kak. Bahkan monumen atau tugu perjuangan pun bisa jadi cagar budaya. Semoga semua pihak dapat menjaganya agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kak, memang banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat. Akibatnya tak jarang kegiatan vandalisme terjadi. Dan cagar budaya diperjualbelikan bahkan ke luar negeri sana.

      Delete
  44. hmmmm jd pengen ke bukittinggi lagiiii jauh dr hiruk pikuk kendaraan di medan 😂

    ReplyDelete
  45. mari kita rawat cagar budaya milik Indonesia untuk generasi kedepannya, biar mereka tahu itu sejarah bukan fairy tale

    ReplyDelete
  46. Terus kira-kira kenapa ya kok angka romawinya IIII? Ada sejarahnya juga ya? Btw, makasih sharingnya saya jadi tahu sejarah jam gadang. Saya pengen banget foto di Jam Gadang tapi belum kesampaian, hehehe

    ReplyDelete
  47. Semoga menag lagi ya mba dyah.
    Tulisannya bagus bingitz...
    Lengkap

    ReplyDelete
  48. Aku suka banget sama bangunan tua yg dijadikan cagar budaya. Tapi aku baru tau kalo cagar budaya nggak sekedar bangunan aja haha. Yuk dijaga bareng. Yg vintage itu bagus lhooo

    ReplyDelete
  49. Cagar budaya di simatra barat emang luar biasa ,jadi pengen ke bukit tinggi deh

    ReplyDelete
  50. jam gadaaaang..aku dataaaang! duh pengen banget ke jam gadang. #save tulisannya deh, siapa tahu berkesempatan jalan2 ke sumbar.

    ReplyDelete

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akunnya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)

Popular