Monday, 12 August 2019

# Home Education # Traveling Ala AuRa

MENAPAKI KISAH TSUNAMI DI SERAMBI MEKKAH

Akhir tahun 2004 kemarin, dunia diguncang dengan kabar bencana yang sangat dahsyat. Gempa yang berkekuatan 9,1 SR mengguncang dasar laut di barat daya Pulau Sumatera. Beberapa menit kemudian datang gelombang tsunami yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, India, Sri Langka, bahkan hingga menyapa Pantai Timur Afrika.

Semua hancur. Terutama di daerah Aceh yang memang menjadi lokasi terdekat dari titik pusat gempanya. Tak kurang dari 170.000 warga Aceh yang menjadi korban jiawa dalam tragedi ini. Belum lagi yang hilang, terluka dan kerugian harta benda yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Di bulan September 2018 kemarin, kami berkesempatan untuk berkunjung ke Aceh dan mengajak duo AuRa menapaki kisah tsunami di Negeri Serambi Mekkah ini. Jalan-jalan kali ini  bukan saja sekedar refreshing tapi juga sebagai ajang mengedukasi anak-anak.

Dari beberapa lokasi yang kami kunjungi. Ada beberapa tempat yang sudah dipugar dan sebagian lain tetap dipertahankan seperti itu untuk mengenang peristiwa tsunami ini.

1. KAPAL PLTD
Alamat : Punge Blang Cut, Kec. Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Aceh 23116

Melihat kapal ini, kami jadi sangat bisa merasakan betapa maha dahsyatnya bencana tsunami yang terjadi di Aceh. Bayangkan saja Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, bisa bergeser sejauh 5 kilometer dari pelabuhan Ulee Lheue ke tengah permukiman kota Banda Aceh. 

Tampak luar bagian kapal


Tampak full bagian luar kapal
Suami berfoto di monumen peringatan

Bagian luar kapal dibiarkan seperti apa adanya. Di bagian depan ada monumen peringatan di depan kapal tersebut dengan relief kapal dan air bah. Sedangkan untuk bagian dalam sudah dilakukan pemugaran dan diisi dengan foto-foto dan televisi untuk menyiarkan video kejadian tsunami. Jika kalian naik ke atas kalian akan bisa melihat kota Banda Aceh. Jika kalian ingin berkunjung ke sini usahakan di waktu pagi atau sore. Karena kapal akan tutup pukul 12.00 -14.00 WIB. Tentu rasanya akan kurang memuaskan tidak menikmati bagian dalam kapal. Untuk masuk ke sini gratis, kalian cukup mengeluarkan uang untuk parkir saja.

Menikmati monumen peringatan dan pemandangan kota



Di bagian dalam tampak mewah
2. Museum Tsunami Aceh
Alamat : Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Aceh 23125, Indonesia

Museum ini merupakan rancangan dari gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Museum ini terdiri dari struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Sangat megah menurut kami, tapi kemegahan itu menyimpan kenangan tentang kepiluan ratusan ribu korban.

Museum Tsunami Aceh tampak atas (sumber. merahputih.com)
Berempat di depan Museum
Jembatan harapan, dibawahnya ada kolam ikan
Didalamnya, kami masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi, ada gemericik air dan suara ombak untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Tibalah di sumur do'a yang berisi nama-nama para korban Tsunami. Jujur di ruang ini saya merasa merinding, bukan karena takut hantu tapi merasakan ketakuutakn para korban saat tsunami menerjang. Selanjutnya di dalam ada miniatur tsunami, benda-benda sisa tsunami, foto-foto kejadian, dan papercutting yang unik dan dibingkai yang menceritakan tentang sebelum dan pasca tsunami.
 
Di ruang sumur doa, di sini ada nama para korban tsunami
duo AuRa melihat miniatur kapal PLTD

Papercutting yang sangat unik
 
Berkisah suasana saat tsunami

3. Pantai Lampuuk
Alamat : Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar

Pantai ini terletak 15 kilometer dari pusat kota yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Seumur-umur ini kali pertama saya melihat pantai yang begitu indah. Pemandangan pantai dan laut yang bersih dengan pasir putihnya ditambah dengan perpohonan disekelilingnya begitu menyegarkan mata. Tak akan menyangka pantai ini saksi biru salah satu lokasi terparah saat tsunami menerjang Aceh Tahun 2004 kemarin.

Anak-anak asyik bermain pasir

Suami berfoto saat suasana senja
Sedangkan saya di siang hari bolong
 
4. Masjid Rahmatullah
Alamat : Meunasah Lambaro, Kec. Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23372

Sebelum kembali ke kota Banda Aceh, kami menyempatkan untuk menyinggahi sebuah Masjid bernama Masjid Rahmatullah yang tak jauh dari Pantai Lampuuk. Masjid ini menjadi sangat terkenal di dunia karena di saat bangunan lain rata dengan tanah, Masjid ini tetap kokoh berdiri. Hanya ada sedikit bagian yang rusak dan salah satu bagian yang rusak tersebut sengaja tidak diperbaiki sampai saat ini. Yang menjadi ciri khas disepanjang jalan menuju pantai, rumah-rumah yang sudah dibangun kembali ada lambang bendera dan negara yang membangunnya. Kebanyakan di daerah sana, dibangun oleh negara Turki. Begitupun dengan Masjid ini perbaikannanya yang didanai oleh negara Turki.


Saat kejadian Tsunami tahun 2004
Masjid Rahmatullah sekarang
Penampakan luar Masjid


Bagian dalam ada yang sengaja tidak diperbaiki


5. Masjid Baiturrahman
Alamat : Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh

Tak lengkap rasanya jika sudah berkeliling di kota Banda Aceh tidak berkunjung ke salah satu masjid termegah di Asia Tenggara ini yang menjadi ikon kota Banda Aceh. Masjid Baiturrahman. Saat tsunami masjid ini juga kokoh berdiri sangat kotras dengan keadaan sekeliling yang porak poranda. Dan kini kekokohan itu ditambah dengan kemegahan dengan sejumlah payung raksasa yang ada di sekitar masjid, satu menara dengan ketinggian lebih dari 84 meter, dan sarana penunjang lainnya. Membuat masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga tempat wisata religi.


 
Masjid Baiturrahman saat tsunami


Penampakan Masjidnya sekarang

Bersantai di pelataran masjid
 


Selain lima wisata ini ada banyak tempat wisata lain yang bisa kalian kunjungi. Seperti kami kemarin yang juga mengunjungi Pantai Ulee Lheu, Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Jembatan Krueng Cut, menikmati sate matang khas aceh dan berburu oleh-oleh saat malam hari di daerah Rex Peunayong. Next, semoga saja bisa berkunjung ke Sabang.

36 comments:

  1. Ahhh,,, seru banget mbak. Aku juga pengen bawa keluarga ke sana. Dulu jaman masih gadis pernah ke museum tsunami dan dermaga ulee lhee. Memang merinding rasanya denger deburan ombak yang pernah menyapu kota Banda Aceh dulu.

    ReplyDelete
  2. Membaca nya aja kak dyah, sudah bisa membuat awak merinding. Maha Besar Allah yang memegang semua makhluk dalam kuasaNya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, ke sana memang bener-bener jadi ingat Allah. Betapa kecilnya kita. Dan betapa hebatnya janji Allah menjaga dua masjid saat semua hancur, bangunan itu tetap berdiri tegak.

      Delete
  3. Pasca tsunami saya pun bekerja di banda aceh mba.. Hampir 2 tahun.
    Ketemu jodohpun di sini heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie..cie.. ada cerita indah di Aceh ya mak. AYo mak tulis 'kutemukan jodohku di serambih mekkah'

      Delete
  4. Subhanallah, masjid Rahmatullah sungguh indah dan megah. Alhamdulillah masih dalam lindungan-Nya ketika bencana itu menimpa, tidak luluh lantak seperti sekelilingnya. Betapa kekuasaan Allah atas segala sesuatu itu mutlak, apapun bisa terjadi sekehendak-Nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. YAng megah itu Baiturrahman bang, kalau Rahmatullah itu masjid di dekat pantai. :)

      Delete
  5. Aduh kalo inget bencana tsunami Aceh ini,pilu dan sedih ya dan semoga kita selalu di lindungi oleh Allah dari segala macam bencana

    ReplyDelete
  6. aku belum pernah ke aceh, dan kepingin banget suatu hari nanti bisa ke aceh sana. mau lihat museum tsunainya juga!

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga suatu hari nanti bisa ke sini ya kk. Berkunjung ke tempat lain juga.

      Delete
  7. Maa syaa Allah Aceh kuat, Aceh bangkit. Setelah sekian lama perlahan pulih dan kembali seperti dulu kala bahkan lebih indah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sekarang Aceh jauh lebih indah daripada pra tsunami kemarin. Juga lebih damai

      Delete
  8. Ya Allah mbak jadi keinget tsunami saat itu, aku melihat dr TV aja merinding apalagi yang di sana yang mengalaminya langsung ya. MasyaAllah masjid2ya masih berdiri tegak. Moga kelak ada kesempatan ke Aceh dan bisa liat monumen serta museum pengingat tsunami-nya jg.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, Kemarin liat berita aja sampe ikut nangis.

      Delete
  9. Wah seru sekali bisa menapaki kisah tsunami. Kalau pergi ke tempat tempat yang terkena bencana alam cukup besar, jadi banyak muhasabah diri.

    Btw, adikku tugas di Aceh. Semoga suatu waktu saya bisa berkunjung ke Aceh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang, apalagi kita tahu bagaimana bentuk bangunan yang hancur waktu tsunami kemarin.

      Delete
  10. Akuuu mupeng mbak
    Tahun 2004,saat tsunami aku tinggal di Pangkalan Berandan, Sumut dan goncangan gempanya terasa bangets memang.
    Dan 2006 aku berkunjung ke Banda Aceh ke nikahan teman dan masih melihat sisa-sisa kejadian.
    Kapal PLTD belom jadi monumen seperti sekarang, masjid Baiturahman sedang direnovasi..belum ada museum tsunami juga..
    Wah, baca artikel dan lihat fotonya jadi pengin ke sana
    Semoga kapan waktu bisa ke Aceh lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. 2006 jejak tsunaminya masih kental banget ya mbak. Bahkan museum tsunami aja belum dibangun

      Delete
  11. Tak terasa ya sudah berlalu sangat lama kejadian tsunami Aceh, kapal itu bukti dahsyatnya gelombang, beneran ga kebayang apa yang terjadi para manusianya saat itu, dan memang pantas dikenang dengan adanya museum tsunami Aceh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak kapal sebesar itu bisa masuk ke daratan 5 kilo meter dari tempat kapal itu bersandar. Dahsyat bener.

      Delete
  12. pilu, sedih, dan kadang ingin berkunjung ke lokasi itu. setidaknya melihat lokasi dimana tragedi itu terjadi, dan kisah-kisah di dalamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, menapaki jejak dan mengambil hikmah. betapa tak ada apa-apanya kita

      Delete
  13. Masya Allah, Tabarakallah, bisa napak tilas ke peristiwa tsunami aceh, anak yang pertama ingin sekali ke museum tsunami karena sering diceritai sepupunya yang tinggal di Aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga suatu hari bisa main ke sana ya mbak. Bangun banget tempatnya untuk mengedukasi anak tentang betapa kuasanya Allah.

      Delete
  14. Ingat betul waktu itu aku kelas 6 SD. Dari pihak sekolah memiliki acara pengalaman dana dan pakaian layak pakai. Kami pun saat itu sangat antusias untuk menyumbang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bentuk solidaritas kita ya. Bahkan jangankan kita sesama penduduk indonesia. Yang dari luar negeri saja berbondong-bondong membantu

      Delete
  15. Lihat kapal apung itu pas kami ke sana 2015 lalu, teman yg orang sana cerita, di bawah kapal apungnya masih terdapat banyak tengkorak para korban gempa dan tsunami, hiks...al faatihah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat memungkinkan korban gempa itu di bawah sana kk karena akan sangat sulit memindahkan kapal sebesar itu sekarang.

      Delete
  16. merinding kalau liat masjid baiturrahman yang tegak berdiri padahal gulungan tsunaminya cukup besar. Aaah, semoga aku punya kesempatan ke museum tsunami di Aceh sekaligus jalan-jalan kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin mbak. Selain jalan-jalan bisa berwisata religi juga mbak.

      Delete
  17. wuah banda aceh mah yang paling jadi ingatan itu ya saat azan. sama seperti di mekkah dan madinah, di banda aceh org-orang yang berjualan puun meninggalkan toko-toko mereka demi memenuhi panggilan Nya tsb. pengen kali bsa ngeistiqomahin diri kayak gitu kalo denger azan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, setelah kejadian tsunami Aceh menjadi kota yang lebih agamis begitu juga dengan orang-orangnya.

      Delete
  18. wuah banda aceh mah yang paling jadi ingatan itu ya saat azan. sama seperti di mekkah dan madinah, di banda aceh org-orang yang berjualan puun meninggalkan toko-toko mereka demi memenuhi panggilan Nya tsb. pengen kali bsa ngeistiqomahin diri kayak gitu kalo denger azan.

    ReplyDelete
  19. Jadi pengen ke Sabang terus mampir ke Aceh deh.
    Soalnya waktu ke Aceh, aku masih cilik banget..

    Di Jakarta pernah ada juga museum tsunami gini. Cuma waktu itu sebagai hari peringatan aja ngga permanen museumnya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. aku juga pengen banget ke sabang. Sayang sekarang domisilinya makin menjauh.

      Delete

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akunnya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)

Popular