Tuesday, 12 February 2019

# Health # Parenting

MENGENAL SANG INNERCHILD

Siapa yang masih suka ikut meledak ketika anaknya sedang tantrum? Hingga berujung 'ngomel' panjang lebar bahkan tak jarang disertai kekerasan yang akhirnya menyakiti batin atau fisik sang anak dan setelah itu menyesal. Anda tak sendiri, sayapun terkadang mengalaminya.

Ilustrasi innerchild

Padahal sebagai umat muslim kita telah diperintahkan untuk sebisa mungkin menahan marah. Sesuai dengan salah satu Hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَل )) :َلاَق ؛ اًراَرِمَدَّدَرَف .((ْبَضْغَت اَل )) :َلاَق ،ْيِنِصْوَأ :َمَّلَسَوِهْيَلَعُهَّللا ىَّلَصِّيِبَّنلِلَلاَق اًلُجَرَّنَأُهْنَعُهَّللاَيِضَرَةَرْيَرُهْيِبَأْنَع
ُّيِراَخُبْلاُهاَوَر .((ْبَضْغَت

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!”
Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Sumber gambar : pinterest

Tapi meski begitu tetap saja kita sering lepas kontrol. Tindakan lepas kontrol itu sangat mungkin berasal dari inner child negatif yang menguasai pikiran bawah sadar saat gejolah emosi kita sedang tak tertahankan.

Sebenarnya apa sih innerchild itu? Menurut John Brasdshaw, dalam buku Home Coming : Reclaiming and Championing Your Inner Child (1990), inner child adalah istilah untuk menjelaskan konsep mengenai bagian dari diri kita yang berupa anak kecil, yang perlu dicintai dan dirawat. Inner child yang dimiliki masing-masing orang dapat berada dalam kondisi baik atau dalam kondisi bermasalah/trauma. 

Jika seseorang banyak mengalami peristiwa yang menyenangkan dalam hidupnya, maka inner childnya  akan berkembang dengan baik dan memberi energi positif bagi jiwa dan perilakunya. Sebaliknya, jika seseorang pernah atau sering mengalami peristiwa yang menyakitkan, maka inner childnya akan stuck diusia saat ia mengalami peristiwa yang menimbulkan luka pada jiwanya.

Inner child, jiwa kanak-kanak yang terkurung dalam diri orang dewasa
Luka/trauma psikologis (inner child negatif) ini tidak hanya kita dapatkan dari pola asuh yang dilakukan orang tua kita misal mencubit atau mengurung kita ketika kita berbuat salah. Tapi juga bisa dari teman dan lingkungan kita semasa kecil misal mendapatkan bully dari teman sekolah. Jika hal ini yang sering didapat dan terus menumpuk hingga dewasa, hal inilah yang akan menjadi penyebab utama inner child negatif itu keluar.

Jika itu inner child positif gak perlu kita khawatirkan tapi jika itu inner child negatif. Hal tersebut seumpama luka harus segera diobati agar tak menjadi borok dan mengrogoti energi positif yang ada dalam diri kita. Yang bukan hany akan melukai diri kita sendiri tapi orang terdekat kita seperti suami dan anak-anak. Kita tak mau bukan? Kita harus menjadi agent utama yang memutus mata rantai itu.

Apa saja yang bisa kita lakukan? Jika mempunyai dananya, memang akan jauh lebih baik jika kita mendatangi pakar (terapis) secara pripadi atau ikut workshop khusus healing inner child, karena pakarnya akan membantu mengobati luka tersebut. Jika kita datang ke yang bukan pakarnya, ketika mereka bisa mengorek luka tersebut tapi tidak mampu memberikan solusi, itu akan menjadi luka baru bagi kita.

Namun jika kita punya keterbatasan dana, waktu, dan lainnya. Mungkin kita bisa mencoba melakukan Self healing terlebih dahulu di rumah dengan cara berikut ini:
  • Lakukan tazkiyatun nafz. Secara etimologis Tazkiyatun nafs berarti membersihkan jiwa, memperbaikinya dan menumbuhkannya agar menjadi semakin baik serta mengembangkan potensi baik jiwa manusia. Dengan banyak beribada, berdoa, beristigfar, menjemput dan mengaplikan ilmu yang sudah didapat, dan sebagainya.
  • Memaafkan orang-orang yang sudah melukai kita baik itu orang tua, saudara, teman dan menerima itu sebagai bagian takdir yang telah Allah gariskan bagi jalan kehidupan kita;
  • Lakukan komunikasi dan harmonisasi bersama suami sebagai patner kita dalam kehidupan berumah tangga terutama dalam mendidik anak-anak kita;
  • Menulis, ini juga bisa jadi salah satu cara melepaskan kemarahan, kekecewaan dan kebencian kita. Tak mampu merangkai kata? Tenang kamu bisa menulis bebas semua yang kamu inginkan. dan sangat baik jika kamu menulisnya di kertas, tuangkan semua perasaan negatifmu lalu setelah itu kau bisa mencoret-coretnya dan bahkan mengoyak kertas tersebut menjadi serpihan kecil.

Menulislah secara sangat bebas tanpa mempedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin. (Dr. James W. Pennebaker).


54 comments:

  1. Saya merasa tak punya inner child negatif..
    Tapi saya takut juga, spt kata teman saya di kelas KPA, "orang gila pun tak merasa kalau dirinya gila"

    Haizzzz...

    Saya perlu anger management... Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau aku merasa memang ada mak. aku marah persis ibuku dulu memarahiku.. hiks... moga abis healing bulan depan aku bisa lepas dari inncerchild negatif ini

      Delete
  2. Hiks kak dyah..
    Saya masih sesekali kelepasan pas keadaan ngantuk atau menjelang tidur malam.

    Memang kadang, saya suka terapi menulis biar daya ngomel saya berkurang..

    ReplyDelete
  3. Ulasan yang menarik. Jadi lebih tau mengenai apa itu inner child.

    ReplyDelete
  4. Artikelnya bagus banget Mbak, menambah pengetahuan.

    ReplyDelete
  5. Wah, ada wartawan nih! Lagi melilitkan?

    ReplyDelete
  6. wih..bahaya banget klo gk melatih tingkat kesabaran kita ya kak bisa2 habis kita marahin anak klo gk dimullai jaga emosi

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap.. bener kk. klw kata orng selembut-lembutnya orang sebelum nikah, pas punya anak bakal keluar juga aumannya. xixixi...

      Delete
  7. Baru jelas apa innerchild skarang. Pantas kalo tempramen orang beda2 berarti dimulai dari kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang.. didikan dan kenangan masa kecil itu berpebgaruh banyak pada diri orang dewasa loh

      Delete
  8. nice share kak, makasih infonya kak..

    ReplyDelete
  9. Penting sih ini kak. Kakak aku lagi punya anak kecil satu tahunan, kalau nggak salah punya buku soal inner child gini juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bang.. ikut baca juga bukunya biar tambah ilmu buat jadi calon ayah yang keren buat nak-anaknya nanti

      Delete
  10. Penting banget ya manajemen inner child ini. Aku sendiri merasa banget kalau ada punya beberapa yg negatif sampe sekarang, dan kalau waktunya 'pas' bakalan keluar. Habis itu nyesel sendiri :(

    Makanya aku pengen anakku nanti gak sepertiku, tapi pola didikku sendiri belum 100% clear, masih ada potensi nurun ke anak. PR lagi sebagai ortu ya hehe. Tapi makasih banyak lho sudah diingatkan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak. Masih banyak PR kita mb sebagai ortu ini. apalagi soal innerchild. kita harus segelah memutus mata rantainya.

      Delete
  11. Kadang2 Kita ngga mnyadari punya sifat innerchild yg mba,, tapi klo itu msih bisa dikendalikn dn k arah positif munkin aman yg serem klo sdh meletuf dn merusak hrs di terapu segera

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau positif gak masalah kk karena itu adalah kenangan indah yang kita punya. tapi kalau negatif bagi luka yang memborok. hiks..

      Delete
  12. Jangan suka marah-marah, karena orang yang menang adalah yang mampu menahan amarahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat mbak..bukankan hadist Rasulullah berkata demikian tapi terkadang tetap kelepasan mbak

      Delete
  13. Mbak aku penasaran ya, aku suka merasa ya kalau aku tuh bahagia saat kecil, tapi suka emosian jg saat skrng, nah apa jgn2 emang inner child ini tu sbnrnya ada yg tanpa kita sadari/ lupakan ya, makanyasbnrnya da tapi kita gk ngrasa nyadar kita tersakiti gtu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau gini aku kurang paham mba, kalau seumpanya mbak belum terlalu merasa terganggu dengan emosi itu coba lakukan self healing aja dulu aja.

      Delete
  14. Inner child ini pernah jadi topik bahasan digrup gendong yang saya ikuti, saya tertarik sekali waktu itu karena memang saya sendiri masih suka tidak bisa kontrol diri saat marah ke anak. Saya masih harus perbaiki lagi masalah ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk.., sama-sama berjuang mbak. semoga kita bisa memutus mata rantai innerchild ini

      Delete
  15. Bahasan tentang innerchild ini selalu menarik bagi saya, dan mungkin bisa jadi memang saya tengah mengalami hal ini, bermanfaat banget mba tulisannya. Kudu banyak memanage diri dan emosi nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap semangat mbak. saya juga sedang berjuang

      Delete
  16. Menulis memang jadi salah satu cara saya melepaskan kemarahan, kekecewaan dan kebencian pada entah apa Mbak..
    Intinya sejak rutin menulis emosi saya Alhamdulillah bisa terkelola:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga menulis ini untuk ajang self healing mbak plus pengingat (kontrol) agar apa yanng kita tulis juga bisa tercermin dalam perilaku kita.

      Delete
  17. Saya suka notednya, menulislah tanpa memperdulikan tata bahasa dan struktur kalimat, niscaya akan terbebas deraan batin. Masya Allah. Ini bener loh. Bersyukurlah ada whatsapp, saya bisa menumpahkannya disana. Taoi mgkn lebih hilang lagi jika kita menulis tangan ya?

    Baca komen mba Dyah, saya juga ngerasa ada inner child. Saya marah persis seperti mama saya marah ke saya. Ya Allah.. semoga ga terjadi ke anak2 saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau untuk terapi emosi dan innerchild emang lebih disarankan tulis tangan kk. Begitu info yang saya dapat dari seorang terapis.

      Delete
  18. Kadang aku merasa bersalah banget karena keponakanku rewel lalu aku cubit aja tangannya. Tapi setelah itu aku langsung minta maaf. Bagaimana tips paling mudah dan caranya biar nggak emosi menghadapi anak-anak yang kadang bikin kita jengkel?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak-banyak istigfar mbak. Tapi kadang saya juga tetap lepas kontrol. hhiikkss...

      Delete
  19. Saya pernah mengikuti anak-anak theraphy. Nama theraphy nya yaitu Art Theraphy. Di Terapi dgn melukis serta menggambar & memang bisa sedikit mengurangi inner child atau trauma mendalam pd diri si anak. Art Theraphy ini juga bisa utk dewasa seperti kita. Menghadapi anak-anak memang sih kadang suka memacu emosi tapi ya kita misti belajar jg mengatasinya. Dulu kan kita juga anak-anak.. memang ekstra berjuang ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap.. Art theraphy juga bisa dijadikan salah satu jalan untuk mengobati ini mbak.

      Delete
  20. memaafkan (masa lalu) memang terkadang sulit ya Mbak, tapi kita harus melakukannya agar tidak terkurung dengan perasaan dendam dan jadi emosi yang meledak-ledak gak jelas yaahh. Menulis juga emang benar bisa jadi satu cara self healing, setuju banget ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sulit mbak.. apalagi jika luka itu terlanjur membesar dan memborok. Harus segera disembuhkan dan itu perlu bantuan terapis. karena gak boleh sembarang orang mengoreknya karena jika tidak tuntas malah membuat luka baru.

      Delete
  21. Berarti pengalaman masa kecil dulu gak bisa dipungkiri akan selalu terbawa dan bersemayam di alam bawah sadar, sehingga suatu saat bisa saja mempengaruhi cara kita bersikap kepada anak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap... kalau aku sangat merasa marahnya aku kepada anak-anak seperti saat ibuku marah kepadaku dulu.

      Delete
  22. Wah, aku harus lebih aware sama inner child ini nih. Masih ada trauma dimasa lalu dan malah jadi beban sekarang. Makasih mbak, artikelnya membukakan mataku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak.. ini musuh utama dalam proses pengasuhan kita mbak

      Delete
  23. Wah mbak, aku baca ini jadi keingetan tulisanku yang lalu. Bahas tentang innerchild juga, soalnya aku memang udah ikut workshopnya. Dua hari full dibantai dengan mengingat dan akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaallah aku minggu depan juga ikkut workshop dua hari full mbak dan mudah-mudahan bisa sembuh juga. aamiin...

      Delete
  24. Kasian ya mbak kadang liat anak kl udah dimarahin. Smg kita sebagai orangtua dapat mengatasi hal ini ya mbak, krn yang namanya anak2 mereka butuh diarahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak.. selalu saja sudah marah itu pasti menyesal

      Delete
  25. Sungguh suka aku sama postingan ini mbak. Foto ilustrasi yang mbak pakai juga selama ini aku kagumi dan aku sadar kalau it is easier to be children. Tapi gatau istilahnya. Ternyata inner child ya. Kalau aku, sungguh, merasa dewasa itu penuh tantangan dan inner child-ku pun perlahan memudar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... kalau aku masih terus berjuang mbak

      Delete
  26. Aku suka menyesal kalau sudah marahi anak mba. Rasanya sedih banget kalau mengingat marah kita saat anak tertidur.

    ReplyDelete
  27. Intinya deket sama Allah biar bisa terkontrol emosi sering istighfar juga,, nyesel bngt klo hbs berbuat itu kn y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak.. tapi gak kalah penting kita harus membuat virus negatif itu mbak.

      Delete

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akunnya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)

Popular