Dyah ummu AuRa. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 11 Januari 2019

THE GIVING TREE, SEBUAH KISAH TENTANG MEMBERI TANPA MENGHARAP BALAS

Sebagai pecinta buku terutama buku anak, awalnya ketika melihat postingan teman di FB untuk pertama kali, jujur saya merasa kurang begitu tertarik karena tidak seperti buku anak pada umumnya yang biasanya penuh animasi lucu dengan tampilan yang full colour. Tapi tidak dengan buku ini, yang hanya berisi animasi dengan warna putih-hitam-merah saja. Karena penasaran, soalnya review dari teman-teman sesama pecinta buku anak bilang kalau buku ini bagus. Akhirnya saya beli dengan harga yang cukup murah kala itu kalau gak salah cuma dua puluh lima ribu.
The giving tree versi bahasa Indonesia
The giving tree merupakan karya Shel Silverstein pada tahun 1964 terbitan Harper Collins Publisher dan diperbaruhi Evil Eyes LLC di tahun 1992. Tapi untuk buku yang saya punya sudah dalam bentuk terjemahan bahasa indonesia yang diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta dan merupakan cetakan 1 : oktober 2014. Buku ini menurut goodreads.com (GoodReads merupakan situs jaringan sosial yang mengkhususkan pada katalogisasi buku), masuk dalam list ‘Best Books of the 20th Century’, berada pada urutan 36, dengan rata-rata rating 4,38 dari 5 bintang. Cukup tinggi kan ratingnya?

Saat membaca buku ini, kesan pertama mungkin buku lebih tepat ditujukan untuk pembaca anak-anak karena tiap lembarnya berisi kalimat cerita yang tak terlalu panjang. Namun jika diamati buku ini cocok juga dibaca oleh orang dewasa, mengingat cerita fiksinya begitu sarat dengan nilai filosofi yang sangat kuat dengan ilustrasi simpel namun bermakna. Apalagi kalau bacanya pas sendirian.. hiks.. bisa mewek deh. Mau coba? Silakan buktikan.

Saat anak laki-laki bermain bersama pohon
Buku ini berkisah tentang sebatang pohon yang bersahabat dengan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu mengumpulkan daun-daun dari si pohon untuk dijadikan mahkota lalu memerankan menjadi raja hutan. mereka bermain bersama bahkan ketika lelah anak tersebut tidur di bawah pohon. Hingga membuat mereka saling menyayangi dan bahagia. 

Waktupun berlalu.. ketika anak laki-laki itu beranjak dewasa, sang pohon sering kali sendirian. Anak laki-laki itu tak mau bermain bersama lagi. Anak tersebut hanya datang saat dia sedang mengalami kesulitan dan sang pohon senantiasa membantunya. Mulai dari memberikan buahnya untuk dijual oleh anak laki-laki, lalu dahannya untuk rumah, dan batangnya untuk dijadikan perahu oleh sang anak. Tapi pohon itu tetap bahagia walaupun dia dalam kesendirian bahkan sekarang pohon itu tak layak lagi disebut pohon karena kini hanyalah sebatang tunggu tua.

Dan setelah cukup lama, anak laki-laki itu yang kini telah menjadi seorang kakek-kakek yang keriput itu kembali menemui sang pohon. Sang pohon itupun mendesah. "Aku berharap bisa memberimu sesuatu.. tapi aku tidak punya apa-apa lagi. aku hanyalah sebatang tunggul tua. Maafkan aku," ujar sang pohon. 

"Aku tidak membutuhkan banyak hal sekarang," kata anak laki-laki itu Ternyata dia hanya ingin duduk dan beristirahat. Tentu saja sebuah tunggul tua jelas bagus untuk diduduki. kemudian anak laki-laki itu melakukannya... Dan pohon itupun bahagia. 😭 

Anak laki-laki telah menjadi kakek tua dan sang pohon menjadi tunggul tua
Dengan membaca buku ini, setiap pembaca akan mendapatkan kisahnya sendiri, pelajarannya sendiri, sesuai dengan pengalaman kehidupannya masing-masing. Satu cerita dengan sejuta penafsiran. Begitulah sebuah buku yang hebat dibuat.   

Ada sebagian penafsiran cerita ini bisa diumpamakan pohon tersebut sebagai orang tua yang rela memberikan apa saja kepada anaknya.
Adapula yang menafsiran sikap kita terhadap alam. kita.. manusia begitu rakus merampas semua isi alam tapi akhirnya kita akan tetap membutuhkan alam ini.

Apa pendapatmu?? yuk.. baca bukunya 😊

29 komentar:

  1. Pernah baca kisah seperti ini. Tapi singkat. Jadi, pohon itu ibarat orangtua yang rela jadi apa aja, bahkan dipotong demi kebahagiaan anak2..

    BalasHapus
  2. Penasaran dengan ceritanya. Baca ulasannya aja, seperti terbawa dalam kehidupan. Mau nangis...

    Setuju sih kalau diibaratkan antara orangtua dengan anak.

    BalasHapus
  3. Penasaran dengan ceritanya. Baca ulasannya aja, seperti terbawa dalam kehidupan. Mau nangis...

    Setuju sih kalau diibaratkan antara orangtua dengan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi baca bukunya bang. duh.. mewek saya

      Hapus
  4. Pernah dengar dan tau cerita ini. Keknya di Youtube. Buat merinding dan sedih kalau dihayati

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya di youtube dah banyak juga yang dianimasikan

      Hapus
  5. iya, pernah baca kisah pohon sbg ortu dan anak,, sedih bangeet,, memang kasih sayangnya ortu itu tidak ada bandingannya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener kk.. dan lebih terasa lahgi ketika kita juga telah menjadi orang tua. duh.. jadi menyesal pernah berlaku kurang baik dengan orang tua kita dulu

      Hapus
  6. Sangat menarik dan penuh makna

    BalasHapus
  7. pernah awak baca kak, seriusan itu lebih panjang dan lebih sedih, tapi dengn buku harga 25 ribu ada makna begini dalam, rasanya kita sendiri kapan ya bisa jadi seperti pohon itu, memberi manfaat pada yang lain. hhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. berkualitasnya sebuah cerita adalah ketika penikmat ceritanya bisa begitu menhayati dan mengambil hikmah dari cerita tsb. moga nanti kita bisa menulis cerita inspiratif gini ya kk.

      Hapus
  8. alangkah bahagianya jika disaat kita sudah tidak punya apa apa namun masih bisa memberi manfaat kepada orang lain

    BalasHapus
  9. sebagai kategori orang yang cengeng, baca sinopsisnya dari postingan kakak aja udah mewek. apalagi kalau baca full bukunya ya kak. btw di gramed masih adakah bukunya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku kemarin beli di lapak online dan itupun buku sale sisa gudangnya gramed kk.

      Hapus

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akun googlenya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)