Dyah ummu AuRa. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 30 Januari 2019

PENTINGNYA EGOSENTRIS PADA ANAK USIA DINI

Kemarin ada anak tetangga mengambil mainan yang sudah rusak punya si Rais. Ku kira karena sudah rusak jadi aku biarkan anak tersebut mengambilnya. Ternyata si Rais sangat tak senang hingga berujung tantrum.

"Mamas gak mau. Mainan diambil adek itu," ujar si bungsu kami ini.

"Kan mainan itu dah rusak, Mas. Gakpapa ya nak? Nanti ummi kasih yang baru"

Karena ku pikir mainan itu memang sudah rusak jadi tak ada salahnya diambil. Ternyata tidak begitu pemikiran Rais. Dia marah dan mengamuk. Padahal aku menawarkan mainan serupa yang baru, ya baru saat itu juga (berhubung memang ada stok sisa barang jualan). Tapi ternyata itu tidak membuat dia berhenti menangis.


Hari Ahad lalu ( 27 /01/ 2019) saat mengikuti kelas komunikasi anak "Memperbaiki Pola Asuh dengan Komunikasi yang Tepat" bersama Emak Safithrie Sutrisno. Aku serasa ditampar bolak-balik. Ternyata yang aku lakukan kemarin sebuah kesalahan yang sangat fatal dan kejadian yang menyakitkan bagi Rais. 

Ternyata yang dilakukan Rais itu sangat lumrah. Tindakan tersebut muncul karena adanya sifat egosentris. Semua manusia pasti memiliki ego. Sifat yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain, sifat ini dimiliki anak-anak dan dewasa. Tapi jika anak-anak dinamakan egosentris, maka orang dewasa itu dinamakan egois.

Kenapa berbeda ya antara egosentris dan egois? Ya tentu saja berbeda. Egosentris tercipta dimana seorang anak belum mampu untuk memahami pikiran orang lain, sedangkan egois dia sudah mampu untuk memahami pikiran orang lain, namun dia tidak mau untuk memahami orang lain.

Sifat egosentris inilah yang mendominasi anak usia dini kisaran 2-6 tahun. Selain kejadian yang dialami Rais di atas. Ada contoh lain, misalnya si adek punya makanan dan tidak mau berbagi dengan kakak, sebaiknya yang kita lakukan adalah menghargai pendapat si adek dan memberi pengertian ke si kakak. Mungkin ada yang berpikir, duh masih kecil kok gak diajari berbagi sih, kok masih kecil udah pelit, dan pendapat negatif lainnya yang sejenis.

Padahal sangat penting untuk mengisi kantung jiwa egosentris ini pada anak usai dini. Agar saat dewasa dia mampu menghargai orang lain. Sebaliknya jika egosentris ini tidak terpenuhi, anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang egois karena dia merasa saat masa kecil pendapatnya tak dihargai sehingga dia akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Yang ada dalam dirinya hanya kepentingan diri sendiri saja, tidak peduli dengan orang lain yang disekelilingnya itu bukan menjadi urusannya. Menyeramkan bukan? Dan itulah yang terjadi disekeliling kita sekarang. Contoh kecilnya seseorang yangn egosentrisnya tak tertuntaskan dimasa kecil dan saat dewasa menjadi pemimpin, yang dipikirkannya hanyalah bagaimana caranya memperkaya diri sendiri.

Kusangka hal ini sangat remeh dan awalnya aku ingin mengajarkan Rais bisa berbagi sejak dini. Makanya jika ada kejadian yang serupa, kata emak safitri yang kulakukan adalah menanyakan keinginannya dahulu.

Apakah dia mau meminjamkan atau memberikan suatu barang kepada orang lain? Jika dia mau meminjamkan atau memberikan haruslah karena benar keinginannya bukan karena intimidasi pihak-pihak tertentu. Sebaliknya jika dia tidak mau melakukannya  maka sikap kita adalah menghargainya, memintanya untuk menyembunyikan barang tersebut atau membiarkannya main sendiri untuk sementara waktu sehingga keributanpun dapat diminimalisir.


InsyaAllah jika kantung jiwa egosentris ini telah terpenuhi, anak-anak akan mulai belajar berbagi tanpa perlu kita suruh lagi. Dan kelak ketika mereka dewasa mereka akan menjadi manusia yanng mempunyai rasa simpati dan empati yang tinggi terhadap sesamanya.

Tapi perlu diingat, tidak smeua keinginan anak juga harus dipenuhi ya mak. Sebagai orangtua kita tetap harus memiiliki batasan. Apa saja itu?
  • Tidak melanggar syariat dalam ajaran agama kita:
  • Tidak melanggar norma/adat yang belaku di dalam suatu masyarakat; dan
  • Tidak membahayakan dirinya dan orang lain disekitarnya.

Ternyata ada banyak hal yang ku anggap hal yang kecil dalam proses pengasuhan ternyata berdampak besar pada diri sang anak nantinya. Memanglah menjadi orangtua itu harusnya punya banyak ilmu.



51 komentar:

  1. Ternyata anak pelit itu lumrah ya..

    Kadang emak ini pula yg suka bilangin anak bayi nya pelit.. g mau berbagi..

    Duh tobat ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kelas bareng kak sisca kemarin kk. duh.. aku serasa ditabok-taboklah.

      Hapus
  2. Kalo bahasa medan nya,, gosah pala kali dimengkekkan hahaha

    BalasHapus
  3. bagus, kak....malah baru paham.....

    BalasHapus
  4. Jadi tau bedanya egois dan egosentris

    BalasHapus
  5. wih..nanti klo gt apa gk kebiasaan dia gk ngasi tros sama org lain kaka?.. nanti yg awak kira egosntris trnyata pelit.. kek mana lah bedainnya kak hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixi.. diatas sy tulis "Sifat egosentris inilah yang mendominasi anak usia dini kisaran 2-6 tahun" tapi insyaallah tetap bisa kita mulai soundingkan untuk berbagi pada usia ini asal gak dipaksa kk. Begitujuga ajaran Rasulullah untuk mulai mengajarkan anak shalat di usia 7 tahun, jadi sebelum itu kalau mereka mau shalat or gak gak boleh dipaksa. tapi saat usia 7 tahun inilah anak akan lebih kita nasehatin lagi dan insyaallah mereka akan mulai lebih berpikir. orang parenting bilang usia 7 tahun kedua :) kalau udah dewasa masih pelit itu namanya egois atau egosentris yang tak tuntas di masa kecilnya.

      Hapus
  6. Saya baru mengenal egosentris ini mba. Tapi saya selalu menanyakan ke anak saya dulu saat akan berbagi, jika jawabannya tidak saya menurutinya. Terima kasih mba sharingnya :)

    BalasHapus
  7. Saat usia anak saya sekitar 4 tahunan saya juga merasa repot selalu memberikan pengertian tentang berbagai, saling pinjam, dan pemahaman lain. Sekarang sudah usia 6 tahun anak mulai mengerti dan atas kesadaran sendiri justru menawarkan kepada teman atau saudaranya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.. semakin besar semakin mudah dia mencerna nasehat kita

      Hapus
  8. Benar juga sih anakku juga begitu yang masih 3 tahun, kadang suka berebut mainan sama sepupunya yang beda 10 bulan saja. Tapi memang hal tersebut lumrah buat anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixi.. anakku dua juga gitu mbak. jaraknya 20 bulan aja

      Hapus
  9. Mbak, kenala sama emak safithrie sutrisno juga? Aku sering ketemu dan bikin kelas juga sama beliau. Dunia sempit ya ternyata, hahaha.

    Aku dulu, sebelum tahu tentang hal ini suka maksa anakku. Kalau sekarang udah enggak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. aku ikut kelas komunikasi anak ma beliau. dan insyaallah ini mau ikut workshop manajemen emosi dan healing innerchild. Doain ya mbak, moga ilmu yang didapat bisa diterapkan. Btw mbak tinggal dimana?

      Hapus
  10. Nah ini nih, ilmu baru lagi buat aku. Sebagai orang tua seringkali menganggap sesuatu iyu masalah kecil ya, tapi ketika sudah bersingungan dengan ego gak bisa dianggap sepele karena efeknya besar sekali dimasa yang akan datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. huhuhu.. aku merasa rada telat tahunya mbak padahal efeknya jangka panjang

      Hapus
  11. oleh sebab itu ilmu harus dicari, agar kita bisa memahami karakter anak, karena pemikiran kita tidak sama dengan pemikiran anak. selamat belajar mencari ilmu yang baru ya kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget kak.. pemikiran kita gak sam dengan pemikiran anak-anak. dan memang harus belajar soal itu. :)

      Hapus
  12. Noted! Jadi tahu beda ego sentris dan egois..
    memang banyaaak yang mesti dipelajari saat jadi ortu ini ya mba..
    Semoga kita dimampukan dan dimudahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya Allah.. banyak banget mbak untuk bisa jadi ortu yang baik bagi anak kita

      Hapus
  13. Untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak memang tidaklah mudah, kesabaran diperlukan agar egosentris maupun egois tidak dimiliki oleh si anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kak.. agar kita jangan hanya memikirkan diri sendiri saja.

      Hapus
  14. Banyak hal yang bisa dipelajari yah, termasuk tentang egosentris ini makasih yaa mbak

    BalasHapus
  15. Noted banbet ini, Anakku berdua tu mesti berebutan mainan. Padahal mainan di rumah gak hanya itu aja. Smapai bingung gmn caranya mengajari konsep berbagi. Tapi emang gak boleh dipaksa ya mbak, jd mungkin diajari terus konsep berbagi supaya bener2 paham berbagi krn keinginannya sendiri TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. selain itu diajarkan hak kepemilikan juga mbak. karena jika memang itu milik sang adik sang kk tidak boleh memakainnya jika tanpa izin sang adik.

      Hapus
  16. wah ternyata begitu ya kita harus membiarkan anak melewati fase egosentrisnya ini. ilmu baru nih buatku. kebetulan anakku umurnya 2 tahun dan kadang memang pelit banget bagi-bagi barang punya dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2 tahun masih wajar kak.. sembari tetap di soundingkan tentang hal berbagi juga.

      Hapus
  17. huaaa ternyata egosentris ini bakalan berpengaruh buruk pada perkembangan anak di masa mendatang ya Mbak.
    ternyata berbagi itu harus benar-benar datang dari keinginan sang Anak sendiri ya gak boleh ada intimidasi dari pihak mana pun, huhuhh.. NOTED nih, makasih sharingnya ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap.. BIG NO untuk intimidasi mb. hiks.. nyesel aku sering melakukannya kemarin

      Hapus
  18. Waah baru tau. Itu egosentris samlai usia berapa? Takut salah mendidik. Kalau g baca ini ga ngerti nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampai usia kira-kira 7 tahun mbak. gak bisa dipastikan karena tiap anak berbeda tapi sepertiny usia SD.

      Hapus
  19. Di rumah ada anak cewek umur 4 tahun sama anak cowok umur 3 tahun. Keduanya masih egosentris meski terkadang kalau anginnya lagi bagus suka berbagi mainan. Aku ngeri baca soal efeknya, penting banget ya memenuhi jiwa egonya ini, noted banget buatku. Terima kasih sudah sharing ya Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak. Anakku juga cwek usia 6 dan cwok 4,5 tahun.

      Hapus
  20. Memang ada masanya anak dalam tahap egosentris. Sebagai orangtua kita tetap harus melatih agar keegoisannya berkurang secara perlahan-lahan seiring dengan bertambahnya usia

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget mbak. dan tidak mudah melatih itu apalgi jika tidak mengerti

      Hapus
  21. Alu baru tahu tuh, ternyata untuk anak2 namanya beda, buka egois seperti yg dikenal selama ini. Kaya bibit2 kecilnya gitu, kalau ga segera di tangani bisa bahaya ya mom?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget kak.. itulah yang banyak dilakukan manusia dewasa sekarang. EGOIS

      Hapus
  22. Ilmu baru mba, noted. Sebagai emak-emak newbie macem saya, seringkali menganggap hal ini tindakan yg salah, tapi nyatanya dari egosentris inilah kita secara tidak melatih si kecil untuk belajar mempertahankan apa yg dia miliki dan sikap teguh atas apa yg diaa rasakan. Sukab banget dengan pembahasan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak mbak.. saya juga sedang belajar dan berikhtiar mbak

      Hapus
  23. Nice info mba.. aku baru tau kalau efeknya begitu besar di masa depan.. Rasanya masih beruntung, masih punya kesempatan utk memenuhi kebutuhan anak2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mbak. seperti saya walaupun merasa rada terlambat tapi merasa bersyukur masih bisa memperbaikinya

      Hapus

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akun googlenya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)