Dyah ummu AuRa. Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 05 Januari 2019

FTM VS WM, MARI MEMANDANG DARI KEDUA SISI


Bicara soal FTM VS WM itu gak ada matinya.  Apa sih FTM? Itu loh kepanjangan dari Full Time Mom bahasa kerennya dari ibu rumah Tangga. Sedangkan WM  itu sendiri kepanjangan dari Working Mom atau ibu pekerja.  Setiap dibahas pasti banyak menimbulkan pro kontra dan hasilnya bikin suasana rame dan jadi gak nyaman. 

Terlebih lagi jika itu dibahas di sosmed, duh pasti jadi rame sama halnya jika kita membicarakan sufor vs ASI, homeschooling vs sekolah formal, dan bahasan pro kontra lainnya. Padahal sebenarnya kalau di sosmed jangankan hal krusial seperti ini, masak pake gula dan gak pake gula aja bisa jadi bahan ‘pertikaian’ di antara dua kubu jika tidak disingkapi secara bijak. Tul gak?

Jika kita bisa memandang dari kedua sisi antara pejuang FTM dan WM, mereka semua adalah ibu yang mempunyai suka dukanya masing-masing. Gak percaya? Akan saya kupas sedikit.

Para pejuang FTM sering kali menerima cibiran, karena seperti ‘orang bodoh’ yang sudah sekolah tinggi dan punya ijazah tapi ujung-ujungnya cuma di dalam rumah saja. Itu yang sangat sering saya dengar. Tak jarang juga diremehkan dianggap katak dalam tempurung yang tahunya cuma urusan tiga ur (kasur,sumur dan dapur). Ngenes gak sih? Padahal kebanyakan dari mereka memutuskan untuk di rumah karena alasan anak dan suami.

Itu yang terjadi pada saya pribadi. Sebelum menikah sampai Auni anak pertama kami lahir, saya masih menjalani rutinitas menjadi guru. Tapi semenjak saya hamil, suami mendapat surat promosi yang mengharuskannya pindah ke kota lain. Menjalani kehamilan dengan status LDM sangat tak mudah hingga akhirnya setelah dua bulan melahirkan, saya memutuskan untuk resign dan ikut suami merantau. Di perantauan bukannya saya tak pernah mencoba melamar kerja kembali tapi setiap memasukkan lamaran dan ikut tes, ketika mata memandang si kecil Auni airmata meleleh membayangkan ketika mungil ini diasuh orang lain. Sungguh saya tak rela. Akhirnya saya kembali mengalah untuk memutuskan tetap jadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya di rumah menjaga dan mendidik anak-anak serta mengurus kebutuhan suami.

Tak mudah awalnya, saya sempat stress berat karena terbiasa dari zaman kuliah menjadi orang yang cukup  mobile yang cukup banyak kegiatan dari sekolah sampai organisasi kemudian bekerja menjadi guru yang bisa berinteraksi dengan banyak orang tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga yang seharian hanya di rumah apalagi tugas suami yang membuat kami hanya beberapa bulan menetap di suatu kota membuatku merasa tak punya teman dan harus terus belajar beradaptasi berulang-ulang. Begitu banyak cerita serupa dengan cerita saya. Jadi cobalah berempati menjadi Full Time Mom terkadang bukanlah pilihan yang mudah.

Tapi walaupun FTM, saya dan teman-teman tetap bisa menimbah ilmu baik via online seperti aktif di komunitas dan grup maupun via offline pengajian rutin tiap minggu, seminar-seminar, dan lainnya. Kami tak mau menyerah, kami akan tetap berkarya dan menebar manfaat bagi orang banyak walaupun dari dalam rumah.

Menjadi WMpun sama, mereka juga banyak di jugde dengan label ibu yang tak sayang anak. Padahal begitu banyak yang menjadi ibu pekerja juga karena faktor keadaan bukan cuma karena kepuasan pribadi. Misalnya pendapatan suami yang belum mencukupi kebutuhan rumah tangga, suami sakit atau bahkan meninggal, dan alasan lain. Bisa juga karena mereka mau membantu orang tua yang sakit atau membiayai pendidikan adik-adiknya. Beberapa dari pejuang WM bahkan ada yang tak mampu membayar asisten rumah tangga, mereka harus bangun lebih pagi dan tidur lebih malam untuk menyelesaikan urusan domestik rumah tangga. Belum lagi melepaskan anak-anak yang harus dititipkan ke daycare (tempat penitipan anak) atau pengasuh.

Sering kali jika cerita tentang anak, mereka menampakkan mimik muka sedih dan tak jarang menangis karena melewatkan masa-masa emas tumbuh kembang anak mereka yang tak terulang. Bahkan bulek (adik ayahku) harus kehilangan anak bungsunya karena demam ketika dia terlambat pulang karena urusan pekerjaan. Belum lagi ketika susahnya cari pengasuh yang sesuai harapan. Tak jarang para pengasuh tersebut memberikan pelayanan buruk pada anak mereka baik verbal maupun fisik  hingga akhirnya mengharuskan mereka gonta-ganti pengasuh. Atau kebalikannya anaknya lebih sayang pada pengasuhny daripada mereka.

 
Jadi jika kita bisa bijak dan bisa memandang dua sisi menjadi FTM ataupun WM sungguh tak mudah. Mereka mempunyai cerita sendiri yang sudah sangat seharusnya membuat kita bersimpati dan berempati.

Hidup itu tentang pilihan dan setiap pilihan pasti akan ada kosekuensinya. Apapun pilihan kita pastikan itu diridhoi suami dan bisa seimbang menjalankan tugas sebagai istri, ibu maupun bagian dari masyarakat dan umat beragama. Hingga usaha yang kita lakukan tak sia-sia tapi bisa bernilai pahala yang berbuah syurga.




30 komentar:

  1. ibu itu tidak ada bedanya.. krn yg diurus juga anak anak dan 1 suami yg membuat beda pola pikir manusianya. tetap semangat kak jadi ibu .semua ada hikmahnyankak hihi

    BalasHapus
  2. Nga bisa ngebayangin gimana masa kecilku dengan ibu yang jarang di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua pilihan pasti akan ada konsekuensinya bang.. jadi ibupun begitu sering kali dihadapkan dengan beberapa pilihan

      Hapus
  3. Karena kondisi tiap rumah tangga berbeda, memang sikap terbaik adalah tidak nge-judge mana yg terbaik 😊😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap.. bener kk. tapi sayangnya gak banyak yang mau bersikap bijak.

      Hapus
  4. Beruntung baca tulisan ini. Beberapa lalu Gacil juga sempat nonton di Youtube kak mengenai FTM dan WM. DItambah tulisan kakak. Gacil jadi nambah ilmu parenting. Nabung ilmu dulu, biar entar kalau nikah udah lebih enak menjadi seorang ibu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixix.. bener gacil. jadi istri dan ibu itu gak ada sekolahnya padahal akan kita jalani lebih dari separuh usia kita. udah keren banget tuh belum nikah dah mau belajar ginian. kalau aku dah jadi ibu mau melek. hiks...

      Hapus
  5. Kalau saya masih AW lah yaa,, activist wife ahahaha

    BalasHapus
  6. Jangan peduli omongan orang. Toh setiap yang dilakukan juga salah. Tapi tenang ibu ibu mah gak pernah salah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk.. jangan gitu lah. emak tuh selalu bener

      Hapus
  7. Antara Full time mom dan working mom sama sama memiliki risiko atau pilihan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tapi kalau seandainya aku memilih meski aku pria, aku tetap memilih working mom sih kak... Lebih greget aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebalikan ma suamiku bang.. lebih seneng istrinya di rumah tapi tidak menghalangi istrinya untuk tetap belajar dan berkarya

      Hapus
  8. Setiap pilihan pasti yang terbaik ya, kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. saling menghargai dan menghormati 😊

      Hapus
  9. saya pun akan berpikir demikiaan mbak,, bila saya jadi mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.. tapi Alhamdulillah masih bs belajar dan berkarya walaupun dari dalam rumah

      Hapus
  10. Ftm dan wm sama - sama mulia ❤. Sama sama - memilikj resiko. Aku udah liat yang ftm dan wm sama - sama sukses mendidik anak 😃.

    Yang penting jika pilihannya wm, berarti harus tetap dapat izin dari suami. Dan juga memilih pengasuh yang baik, agar kita merasa aman, karena itu yang aku liat dari kakak aku yang wm. Dan Alhamdulillah ponakan ku gamacem" tingkahnya (berprilaku buruk)😂 . Dan lengkat banget malah sama kakak aku 😂

    Thankyou bun udah sharing 😃

    BalasHapus
  11. yap.. setiap pilihan pasti ada plus minusnnya. asal bisa menyeimbangankan semua peran gak ada yang salah menjadi WM :)

    BalasHapus
  12. Saya sebagai guru di full day school kadang miris melihat anak-anak yang kadang mengadu, ibunya selalu pulang malam, intinya kurang perhatian dr ortu smpe nilainya anjlok, tapi akhirny tetep gurunya juga disuruh ngelesin anaknya,, supya g ktinggalan pljaran.. kdg diberi pmhaman juga mama kerjanya buat siapa ,, dan salutny ada yg tetap berkarir tp anakny tdk kkrg ksih sayang ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya gak hanya WM, banyak juga FTM yang hanya sekedar di rumah tapi kurang perhatian ma anak-anaknya. Makanya kalimat penutup saya bikin perlu ada kesimbangan dalam menjalankan beberapa peran. karena bukan stautusnya yang salah tapi sikap individunya. tetap semangat cigu.. Barakallah... semoga tetap sabar dan bijak menghadapi anak-anak muridnya :*

      Hapus
  13. jadi inget yang kemaren diperdebatkan para member baru di rutam ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkw.. iya mak. emang terinspirasi dari sana buat nulis ini.

      Hapus
  14. Pilihannya conditional sih ya. Tapi semua ibu pasti punya alasan buat jadi FTM atau WM

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap.. bener sekali kk. semua orang akan selalu dihadapkan dengan pilihan. tapi selayaknya apapun pilihannya semua tugas tetap dilaksanakan.

      Hapus
  15. FTM dan WM ini ibarat kisah dramatis yang kalo disinetronkan gak bakalan habis-habisnya sampe tujuh juta tahin cahaya🤐

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi... gitu deh. apalagi kalau gak disikapi secara bijak dan mau menang sendiri bisa jadi perang dunia ketiga.

      Hapus
  16. Memang selalu ada kelebihan dan kekurangan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sesuatu yang mutlak kk.. semua pilihan apapun itu pasti ada plusminusnya

      Hapus

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akun googlenya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)