Monday, 3 September 2018

# Me Time # Parenting

MENULIS DALAM KETERBATASAN


Kemampuan menulis kita terbatas? Tak apa! Karena saya pun begitu. Menulis waktu zaman sekolah lebih sering dikenal dengan sebutan mengarang adalah  pelajaran terberat yang saya alami. Kalau sudah ada tugas mengarang. Duh, rasanya mau tenggelam di laut terdalam. Wkwkwkw... dramatisir banget ya padahal memang itu yang dirasa. 😅

Tapi saat zaman putih abu-abu mulai tumbuh rasa cinta di dunia tulis menulis walaupun sebatas curahan hati di diary plus ditambah puisi puitis nan romantis ala anak muda. Ini karena saya terkena virusnya AADC. Setiap minggu mantengin sinetronnya di tv, tahan dah nonton sendirian sampai habis. 🙈

Masa kuliah kembali hobi menulis kegiatan sehari-hari tapi bukan lagi di diary tapi di status facebook dengan bahasa alay bin galau 😂.  Gak punya uang aja buat makan di share apalagi keruwetan zaman nyusun skripsi.

Setelah jadi ibu rumah tangga yang saat ini lagi menikmati gelar full mom at home. Ikut grup ini itu, seminar itu ini dan ternyata baru kusadari menulis itu sangat sangat berguna baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 😁

So walaupun tulisan ini garing kayak remahan rengginang tak pe lah. Start from zero... mulailah dari nol dari nilai yang terkecil. Gak ada penulis yang langsung besar kan? Dan walaupun tulisan ini belum bisa dinikmati orang lain setidaknya bisa jadi terapi diri sendiripun sudah cukup.

Kalau ada yang kepo manfaat menulis.. Aku kupas sedikit di bawah ini 😘
Karena  ternyata begitu banyak manfaat menulis. Walaupun manfaatnya belum bisa menjangkau orang lain yakinkan itu akan sangat bermanfaat bagi diri pribadi. 🤗

🖋 Menulis itu mengikat ilmu kita.
Carilah ilmu dengan membaca dan ikatlah ilmu dengan menulis. Kenapa? Karena manusia itu mudah lupa, jadi dengan menulis kita akan terus mengasah daya ingat kita dari apa yang pernah kita liat, baca, hafalkan maupun yang kita rasakan dan alami. Makanya ada penelitian orang yang suka membaca dan menulis lebih susah terjangkit penyakit pikun.

🖋 Media mengungkapkan isi hati dan bisa menjadi diri sendiri.
kalau ini pasti sudah banyak yang melakukannya. Kalau dulu coret-coretnya di diary kalau sekarang di blog. kenapa blog bukan sosmed? Menurutnya blog lebih efektif dibandingkan sosmed klw buat mengungkapkan isi hati karena kalau di blog tulisan kita bisa gak perlu semuanya harus di publish cukup di draf aja 😁 jadi orang lain gak bisa baca tapi kita tetap bisa baca.

🖋 Instrumen bagi kesehatan psikologis kita.
Kemarin ikutan seminar online materinya writing for healing. Dari sana aku dapat ilmu bahwa menulis juga bisa jadi salah satu alat buat mengobati penyakit psikologis kita. Baik itu innerchild kita yang belum tuntas, peristiwa traumatik yang penuh tekanan dan emosi baik di masa lalu maupun masa sekarang. Metodenya namanya expressive writing (silakan di seaching sendiri ya) 😁

🖋 Sarana dakwah 

Bagi orang yang public speakingnya belum good tapi ingin berdakwah, menulis bisa jadi solusinya. Di zaman digital gini akan sangat mendukung jika kita mau berdakwa melalui tulisan. Ada fb, ig, path, blog, dll. Jadi kutipan "Sampaikan walau satu ayat" bisa kita lakukan gak mesti lewat verbal tapi kita tetap bisa dilakukan lewat bahasa tulisan.

 🖋 Menulis, memproduktifkan diri kita
Karena dengan menulis kita akan otomatis banyak membaca dan mencari pengalaman. Jadi tiap dedit waktu dalam hidup kita tidak dihabiskan dalam hal yang sia-sia. Kita tidak akan bisa menulis pengalaman belajar tahsin jika kita cuma baca komik, kita tidak bisa menulis tentang  parenting jika seharian hanya nonton sinetron, so.. pasti kita akan mudah menulis jika kita merasakan sendiri hal yang ingin kita bagikan.

🖋 Memanjangkan keberkahan usia kita
Tahu buya hamka? ya sebagian besar pasti tahu dengan beliau. Buya HAMKA adalah  seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan juga aktif dalam perpolitikan Indonesia. Hamka lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun. 
Yap, beliau meninggal di tahun 1981 selisih 9 tahun dari tahun kelahiranku. Tapi aku masih bisa menikmati karya-karya beliau. itulah arti memnjangkan keberkahan usia kita. gajah mati meinggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama dan karya. Dan itu bisa jadi amalan yang akan terus kita terima sampai hari akhirat jika yang kita tulis adalah ilmu yang bermanfaat.

Sebenarnya masih seabrek manfaat menulis. Yang saya tulis di atas cuma sebagian kecil. Jadi... untuk apa menunda. Mari menulis walaupun dalam keterbatasan.
 

4 comments:

  1. kalau saya, menulis itu semacam self healing. selain juga biar kepala berasa gak penuh :D seringnya banyak numpuk ide atau sesuatu di pikiran, kalau ga ditulis jadi serasa penuh. sama kayak habis baca buku, kalau ga langsung diulas, kepala serasa penuh hehe. jadi dengan menulis, rasanya lebih plong :D

    blognya keren, Kak. barakallah. semoga kita makin semangat dan produktif menulis ya. saling mendoakan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kk.. saya juga sedang melakukan terapi itu. untuk mengingatkan apa yang pernah dibaca dan di dapat. aamiin.. apa nih blog kk. biar saya bisa mampir dan menyerap ilmu di dalamnya :)

      Delete
  2. Iya kak. Sebenarnya menulis itu cuman butuh niat udah deh bisa nulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkw.. niatnya itu harus kuat. nah itu yang belum kupunya

      Delete

Terimakasih banyak sudah berkunjung dan kasih komentar. Mohon masukkan akunnya ya. Semoga yang saya share bermanfaat. :)

Popular